Sejumlah pengunjung berjalan di Forbidden City atau Kota
Terlarang di Beijing, (7/3). Kota Terlarang, merupakan istana terisolasi kaisar
Qing dan Dinasti Ming China untuk tempat wisata utama yang terletak di pusat
ibu kota.
Beijing - Ketika banyak lulusan sekolah menengah berusaha
bersaing mendaftar ke berbagai universitas unggulan, baik dari reputasi maupun
lokasi, seorang remaja pria dari timur China justru memiliki tujuan lain yang
unik, yakni mencari seorang kekasih wanita.
Dilansir South China Morning Post pada Senin (27/3/2018),
seorang remaja pria berusia 18 dilaporkan berhasil lolos hingga tahap seleksi
akhir pada sebuah universitas khusus wanita di Beijing.
Mengutip pemberitaan pada surat kabar Yangtze Evening
Standard pada Sabtu, 24 Maret 2018, remaja pria tersebut beralasan bahwa jika
ia mendaftar ke universitas khusus wanita, maka memudahkannya menemukan wanita
yang akan dijadikan kekasihnya.
Menariknya, meski universitas yang ditujunya itu mengusung
nama 'khusus wanita', namun pengelolanya tetap membuka kesempatan mahasiswa
pria untuk mendaftar, yakni setidaknya satu orang setiap tahun akademik.
Remaja pria, yang tidak disebut namanya, berasal dari kota
Ningbo di provinsi Zhejiang. Ia, secara tidak langsung, telah menghidupkan
kembali perdebatan tentang isu ketimpangan gender di China, setelah video
tentang alasannya mendaftar ke universitas wanita, diunggah dan viral di media
sosial.
“Sekolah ini memiliki banyak gadis, jika (saya) dapat belajar
di sini, saya tidak akan ada masalah dalam mencari teman,” katanya dalam video,
yang direkam oleh seorang siswa, dan diunggah ke media sosial dengan izin
universitas.
Tetapi keluarganya tidak yakin itu ide yang bagus. "Ayah
saya mengatakan kepada saya untuk berhati-hati ... dia tidak ingin anaknya
berubah terlalu banyak karena berada di lingkungan yang dikelilingi oleh
wanita," katanya.
Kejadian unik ini memicu pro dan kontra di kalangan warganet
China. Bagi pihak yang mendukung, tindakan remaja pria itu dianggap sebagai
usaha untuk keluar dari ancaman ketimpangan populasi gender.
Namun sebaliknya, bagi mereka yang kongtra, apa yang
dilakukan oleh remaja pria tersebut dianggap tidak lebih dari upaya 'mengambil
kesempatan dalam kesempitan'.
Diprediksi Sulit Menemukan Calon Istri dalam Beberapa Dekade
ke Depan
Bendera China
Universitas Wanita Beijing merupakan sebuah perguruan tinggi
yang didirikan, dan juga dijalankan oleh Federasi Perempuan Seluruh China.
Perguruan tinggi tersebut rata-rata menerima 1.500 mahasiswa
setiap tahunnya, dengan sekitar satu persen berasal dari kelompok pria.
Berbagai bidang studi dibuka pengajarannya di universitas
ini, mulai dari ilmu hukum, ilmu komputer, keuangan dan manajemen bisnis,
hingga pendidikan bahasa asing.
"Kami memiliki toilet untuk pria di beberapa unit gedung
kampus," kata seorang pejabat universitas tersebut.
Selain itu, tersedia pula fasilitas akomodasi terbatas untuk
mahasiswa pria, yang ditempatkan terpisah di luar lingkungan kampus.
Sementara itu, China telah lama diketahui memiliki
ketimpangan gender yang cukup besar, di mana populasi pria lebih tinggi
daripada wanita. Hal ini tidak lain dikarenakan kebijakan satu keluarga satu
anak, serta preferensi anak laki-laki yang masih diyakini sebagian besar
masyarakat setempat.
Meski kebijakan ketat itu telah dihapus sejak 2015, namun di
beberapa provinsi, muncul rasio 130 anak laki-laki untuk setiap 100 anak
perempuan.
Hal itu, menurut data perkiraan resmi pemerintah, menandakan
sebanyak puluhan juta pria di China kemungkinan tidak akan menemukan calon
istri dalam beberapa dekade mendatang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar