Jakarta - Pergerakan rupiah
sempat melemah beberapa hari terakhir. Nilai tukar rupiah hampir mencapai
14.000 per dolar AS. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meminta
masyarakat Indonesia untuk tenang menghadapi gejolak nilai tukar rupiah.
"Dalam hal ini (penguatan
dolar AS), masyarakat diharapkan tenang karena pergerakan ini berasal dari AS
dan pengaruhnya ke mata uang dunia," kata dia di Gedung DPR, Jakarta,
Kamis (26/4/2018).
Persoalan pelemahan rupiah ini
seharusnya dilihat secara global atau tidak hanya dalam kacamata dalam negeri.
Sri Mulyani menyatakan bahwa mata uang negara lain juga melemah terhadap dolar
AS.
Selengkapnya simak pelemahan
nilai tukar mata uang beberapa negara terhadap dolar AS yang lebih tinggi
dibandingkan Indonesia dalam Infografis berikut ini:
Infografis Nilai Tukar Rupiah (Trie
Yas)
Nilai Tukar Negara Maju Juga
Melemah
Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati (kanan) berbincang dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Rini Soemarno dalam Rapat Terbatas Evaluasi Proyek Strategis Nasional di Kantor
Presiden, Jakarta, Senin (16/4). (Angga Yuniar)
Sri Mulyani mengatakan, pada
pergerakan dua hari terakhir mata uang di negara-negara maju juga melemah
terhadap dolar AS. Besaran pelemahan tersebut juga pada kisaran yang sama.
"Kalau kita lihat pergerakan
dalam dua hari terakhir di mana waktu terjadi penguatan dolar AS itu terasa di
seluruh dunia. Beberapa mata uang negara maju bahkan bisa terdepresiasi di atas
2 persen. Mata uang di sekitar kita bahkan juga depresiasinya di atas
itu," imbuhnya usai menghadiri Rapat Paripurna di DPR RI, Jakarta, Kamis
26 April 2018.
Melihat itu, mantan Direktur
Pelaksana Bank Dunia ini pun meminta masyarakat agar tidak terlalu menyikapi
secara berlebihan. Artinya dalam hal ini masyarakat diminta untuk tetap tenang
pada gejolak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Tentu kita harus melihat ke
depan, masyarakat pasti dalam hal ini perlu untuk terus diberikan informasi
sehingga mereka menjadi lebih tenang bahwa pergerakan ini adalah pergerakan
yang berasal dari AS, dan pengaruhnya pada seluruh mata uang di dunia," ia
memungkasi.
Penyebab Rupiah Keok Lawan Dolar
AS
Teller menghitung mata uang dolar
di penukaran uang di Jakarta, Jumat (20/4). Nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan. (Angga Yuniar)
Sri Mulyani mengungkapkan,
penyebab kurs rupiah lebih banyak dipengaruhi kebijakan ekonomi dari pemerintah
AS seiring dengan perbaikan data ketenagakerjaan dan inflasi di Negeri Paman
Sam.
"Perekonomian AS, baik data
employment maupun inflasi menunjukkan suatu recovery. Perubahan kebijakan
fiskal, seperti pajak dan perdagangan, sehingga AS akan melakukan berbagai
kebijakan meng-adjust," ucapnya di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/4/2018).
Selain itu, ujarnya, The Fed juga
akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate sebanyak tiga sampai empat
kali di 2018. Namun demikian, diakui Sri Mulyani, The Fed akan mengerek suku
bunga acuan secara hati-hati.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar