Ketika Anda, dan banyak khalayak lainnya, berusaha bertahan
hidup dengan bekerja sesuai aturan yang berlaku, sebuah alternatif ruang hidup
berbentuk pulau terapung, tengah diusahakan pembangunannya oleh gabungan
kelompok filantropis, akademisi dan investor.
Salah satu sosok yang menonjol dalam konsep di atas adalah
Nathalie Mezza-Garcia, seorang ilmuwan politik yang mewujudkan kembali konsep
"seavangelesse", yakni istilah untuk penginjil yang mendukung hidup
di luar sistem konvensional.
pada Senin (21/5/2018), Mezza-Garcia berbicara tentang apa
yang dia lihat sebagai masalah dengan pemerintah, dan mengapa dia percaya
startup teknologi harus pergi ke kepulauan Pasifik.
Wanita penganut seavangelesse ini adalah bagian dari tim
peneliti pada proyek pulau terapung Blue Frontiers karya Seasteading Institute.
Proyek tersebut merupakan program percontohan dalam
kemitraan dengan pemerintah Polinesia Prancis, berisi 300 rumah yang dibangun
di sebuah pulau dengan sistem pemerintahan sendiri.
Menariknya, pulau ini juga menganut sistem mata uang mandiri
berjuluk Varyon.
"Begitu kita bisa melihat bagaimana pulau pertama ini
bekerja efektif, maka kita akan memiliki bukti konsep untuk merencanakan
pulau-pulau lainnya sebagai pusat hunian masa depan, yang terbebas dari ancaman
perubahan iklim," kata Mezza-Garcia.
Proyek Blue Frontiers didanai melalui donasi filantropis dan
juga penjualan token mata uang Varyon.
Pulau percontohan ini diharapkan akan selesai pada 2022
mendatang, dengan menelan biaya hingga US$ 50 juta, atau setara Rp 709 miliar.
"Ada signifikansi untuk proyek yang diujicobakan di
Kepulauan Polinesia ini, yakni wilayah di mana tanah bertumpu pada karang dan
akan hilang seiring naiknya permukaan laut," kata Mezza-Garcia.
Selain menawarkan hunian bagi "pengungsi iklim",
pulau-pulau mandiri tersebut juga dirancang sebagai pusat bisnis yang berada di
luar pengaruh peraturan pemerintah.
"Ini berarti ada stabilitas, di luar pengaruh
geopolitik, masalah perdagangan dan fluktuasi mata uang. Saya pikir, ini
inkubator yang sempurna," lanjut Mezza-Garcia.
Ditambahkan oleh Mezza-Garcia, proyek ini juga sangat sesuai
bagi mereka yang kecewa oleh pemerintah konvensional.
Menurutnya, pemerintah di bawah skema pulau terapung hanya
akan ada sebagai penyedia layanan, dan "komunitas terapung" dapat mengatur
sendiri.
Dampak Perubahan Iklim di Darat
Sementara itu, dampak perubahan iklim tidak hanya terasa di
lingkungan perairan laut, melainkan juga di darat.
Selama satu abad terakhir, luas wilayah gurun Sahara telah
bertambah secara signifikan, yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Fenomena itu diketahui berdasarkan kumpulan data ilmiah
sejak 1923, dan terdiri dari berbagai faktor yang berkontribusi terhadap
perubahan curah hujan di wilayah tersebut.
pada akhir Maret lalu, para peneliti telah mencatat bahwa
sebelum Gurun Sahara memiliki wilayah seluas Amerika Serikat (AS), namun kini
semakin melebar 10 persen sejak pengukuran pada satu abad lalu.
Karena populasi dunia terus bertambah, orang-orang di daerah
perbatasan gurun tidak mampu bertahan jika harus kehilangan lebih banyak tanah
yang subur.
Untuk mengetahui dampak perubahan iklim, para ilmuwan
menggunakan metode statistik untuk menghilangkan efek siklus iklim alami,
seperti Atlantic Multidecadal Oscillation pada variabilitas curah hujan.
Hasil tersebut mengungkapkan kombinasi siklus iklim alami
dan perubahan iklim, yang disebabkan manusia, telah menyebabkan perluasan
wilayah gurun secara alami selama abad yang lalu.
Namun, penghitungan terakhir menandakan sebuah kabar buruk,
karena diketahui bertambah luas sebanyak sepertiga dari ukuran alsinya pada
1923.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar