Seorang wanita yang mengidap gejala stroke, terselamatkan
nyawanya berkat aplikasi video call.
Opokua Kwapong, nama wanita itu, tinggal seorang diri di
kota New York, Amerika Serikat (AS) ketika gejala stroke menyerang.
pada Kamis (22/2/2018), saat itu, Kwapong tengah mengobrol
dengan adik perempuannya, Adumea Sapong, yang tinggal di Manchester, Inggris,
via FaceTime.
Namun, sang adik melihat ada kejanggalan pada kakaknya,
yakni terlihat agak pucat dan kerap melantur bicaranya.
Sang adik tahu kakaknya tidak sedang dalam keadaan mabuk,
dan sangat mungkin gejala stroke yang diidapnya kambuh.
"Ia (Sapong) mengatakan bahwa wajah saya terlihat
letih, dan kehilangan fokus saat mengobrol di video," ujar wanita berusia
58 itu.
"Saya tidak menggubris, meskipun kepala saya sedang
agak pening saat itu."
Namun, desakan Sapong membuat Kwapong memutuskan bertanya ke
salah seorang kerabatnya yang berprofesi sebagai dokter. Dalam percakapan video
paralel tersebut, sang kerabat membenarkan kondisi kesehatan Kwapong terlihat
sangat tidak fit.
Merasa khawatir akan kondisi kesehatannya, Kwapong pun
menghubungi panggilan darurat setempat.
Beberapa saat kemudian, Kwapong dijemput oleh petugas medis
untuk pemeriksaan di rumah sakit, dan mendapatkan kabar yang mengejutkan
sekaligus menyedihkan tentang gejala stroke pada dirinya.
Ia didiagnois mengalami pembekuan sel di hampir seluruh
bagian kiri otaknya. Hal tersebut sangat berisiko menyebabkan lumpuh di bagian
otak kiri, di mana hal itu akan memicu terjadinya koma, dan bahkan kematian.
"Hidup seorang diri di tengah padatnya kota New York
tidak menjamin Anda akan selamat di berbagai kondisi," ujar Kwapong.
"Jika tidak berkomunikasi via FaceTime, saya tidak tahu
akan seperti apa nasib saya saat ini."
Kwapong kini tengah menjalani terapi untuk menstimulasi
ulang sel-sel di otak kirinya.
Meski hal itu tidak seratus persen menjamin kesembuhan,
namun setidaknya bisa mengurangi efek terburuk yang menimpa pengidap gejala
stroke seperti Kwapong.
Waspadai Stroke Ringan
Gejala stroke selalu bermula dari sebuah gangguan kesehatan
yang disebut mini stroke.
Mereka yang terkena stroke ringan, pada sembilan tahun pertama, diprediksi
memiliki risiko harapan hidup lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak
pernah mengalaminya.
Meski stroke ringan menyerang hanya dalam waktu yang relatif
singkat, kondisi ini bisa secara mudah berujung pada stroke sebenarnya,
sehingga berdampak permanen.
Kondisi yang lebih parah bisa terjadi jika gejala stroke
ringan tersebut tidak terdeteksi. Hal ini, jika dibiarkan, akan berujung pada
risiko komplikasi, seperti penglihatan yang kabur, gangguan kognitif dan
demensia.
Orang-orang dengan kondisi tertentu wajib mewaspadai
kemungkinan terkena stroke ringan. Mereka yang merokok, mempunyai tekanan darah
tinggi atau hipertensi, dan berat badan berlebih memiliki risiko lebih besar
terkena stroke ringan.
Selain itu, mereka yang memiliki kadar kolesterol tinggi
atau mengonsumsi alkohol berlebih secara rutin juga lebih berisiko terkena
stroke ringan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar