Ilmuwan asal Australia, Dr David Goodall hanya punya satu
keinginan di usianya yang ke-104 tahun: mati.
Setelah mengucap perpisahan dengan keluarganya, Goodall
terbang ke Swiss, duduk di bangku kelas bisnis. Perjalanan lintas benua itu
ditempuh agar ia bisa disuntik mati atau eutanasia.
Aku sangat menyesal mencapai usia setua ini," kata
Goodall kepada ABC, mengungkapkan alasannya ingin mengakhiri hidupnya. Kakek
sepuh itu mengaku tak bahagia.
Bertolak belakang dengan Goodall, tak sedikit orang
mendambakan hidup abadi.
Ada yang terobsesi dengan ramuan, bahkan rela membunuh
sesama manusia demi memuaskan nafsunya itu. Belakangan, orang-orang juga
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan sains untuk mewujudkan keinginannya.
Berikut 5 upaya gila manusia demi bisa hidup abadi,
1. Mandi Darah Perawan
Bangsawan Hungaria, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed
lekat dengan dengan imej sebagai 'Countess Berdarah', perempuan pembunuh
berantai paling sadis sepanjang sejarah.
Ia dan 3 kaki tangannya dituduh menyiksa dan membantai
ratusan gadis, jumlahnya antara 100 hingga 650 orang -- entah berapa pastinya
-- antara tahun 1585 hingga 1610.
Kabar yang beredar menyebut, Elizabeth mandi dengan darah
para korbannya. Ia meyakini, darah perawan akan membuatnya memiliki kecantikan
abadi. 'Rahasia awet muda'.
Ia menyakini, darah gadis muda memancarkan cahaya kemudaan
mereka. Sang countess masuk ke dalam bak mandi dan berendam dalam kubangan
darah korbannya.
2. Darah Mens
Kaisar Jiajing adalah penguasa dari Dinasti Ming. Awal
berkuasa, ia menjadi tumpuan harapan bagi rakyatnya. Ia menghapus kebijakan
rezim sebelumnya yang menindas, pejabat korup disingkirkan, dan pemotongan
pajak diberlakukan di daerah yang mengalami bencana alam.
Akan tetapi, beberapa tahun berkuasa, ia mulai menyimpang.
Ambisi Jiajing akan keabadian membutakan matanya. Ia ingin hidup selamanya.
Untuk itulah sang kaisar menjelma menjadi penguasa brutal, yang tak sesuai
dengan namanya yang berarti "ketenangan yang mengagumkan".
Apa yang disebutnya sebagai "ramuan keabadian"
adalah darah menstruasi perawan yang dicampur dengan merkuri.
Selama masa pemerintahannya, ia memerintahkan sejumlah gadis
muda pilihan, secara bergantian, dibawa ke Kota Terlarang (Forbidden City)
untuk "dipanen".
Untuk memastikan tubuh mereka tetap murni, makanan mereka
dibatasi. Para perawan hanya boleh mengonsumsi mulberi dan embun atau air
hujan. Para dayang istana pun jadi korban praktik itu.
Mereka yang sakit bakal ditendang keluar istana dan
dipukuli. Tak sedikit dari mereka yang mati kelaparan gara-gara diet mengerikan
itu.
Kaisar Jiajing meninggal pada tahun 1567 di usia 59 tahun.
Spekulasi menyebut, ia tewas akibat merkuri beracun yang terkandung dalam
"ramuan keabadian" yang ia konsumsi selama hidupnya
3. Pindahkan Isi Otak ke Komputer
Demi hidup abadi, seorang miliarder di Silicon Valley,
California, Amerika Serikat menyiapkan US$ 10.000 atau setara Rp 137 juta untuk
sebuah rencana gila terhadap otak miliknya.
Uang itu akan ia bayarkan kepada sebuah perusahaan untuk
mengawetkan otaknya, dan pada suatu hari mengunggah memori serta kesadarannya
(consciousness) ke komputer.
Tujuannya, agar ia bisa "hidup selamanya" sebagai
sebuah entitas digital.
Sam Altman (32), wirausahawan teknologi informasi dan
komunikasi, telah membayar uang muka untuk menjadi calon pelanggan Nectome,
sebuah firma start-up yang menjanjikan program pengawetan otak dan pengunggahan
memori serta kesadaran ke komputer.
Sebelum mendaftar, Nectome telah mengimbau Altman dan 24
calon pelanggan lainnya bahwa program tersebut "100 persen
berbahaya".
Meski begitu, Altman tetap optimistis.
Pria yang menciptakan program Y Combinator dan pendiri
berbagai start-up mengatakan, "Saya tetap yakin, otak saya bisa diunggah
ke cloud -- basis penyimpanan data (seperti pada mekanisme penyimpanan e-mail
atau data di media sosial)."
4. Cryonic
Sebelum ajalnya menjemput, Dr James Bedford berwasiat.
Profesor fisika dari University of California itu meminta jasadnya dibekukan di
dalam kapsul logam berisi cairan nitrogen.
Maka, saat ia mengembuskan napas penghabisan pada 12 Januari
1967 -- sebelum otaknya dinyatakan mati -- dalam usia 73 tahun, keluarganya
melaksanakan wasiat itu. Proses cryonic (krionika) pun dilakukan. Tujuannya,
untuk melestarikannya, menjaga kondisi jasadnya hingga tiba waktunya nanti,
mendiang akan dihidupkan kembali.
Caranya, tubuh manusia segera diproses beberapa menit
setelah dinyatakan meninggal secara klinis. Direndam dalam es, jaringan tubuh
beku itu diisi heparin untuk mencegah koagulasi saat dibawa ke laboratorium.
Setelah itu, pasien yang tak lagi sadar dimasukkan ke dalam
cryostat -- tanki logam berisi nitrogen cair bersuhu -196 derajat Celcius.
Semua itu dilakukan untuk menjaganya agar tetap berada di bawah titik beku agar
sel tak rusak sehingga bisa dibangkitkan kembali.
Bedford menjadi manusia pertama dalam sejarah yang jasadnya
dibekukan, untuk dibangkitkan suatu saat nanti.
Majalah Time kala itu memuat artikel soal peristiwa itu,
dengan judul 'Never Say Die'.
Seperti dikutip dari situs PR Newswire, pihak AlcorLife
Extension Foundation-- yang kini mengurusnya -- mengungkapkan, pada 16 Desember
2015, Bedford yang lahir pada 20 April 1893 menjadi manusia 'paling awet'
dengan bertahan selama 122 tahun, 183 hari.
5. Darah Muda
Sejumlah budaya meyakini, darah orang muda bisa meningkatkan
vitalitas mereka yang lebih tua.
Hasil penelitian, yang menyuntikkan darah tikus muda ke yang
lebih tua, juga mendukung hipotesis tersebut.
Tikus tua yang ditransfusi menunjukkan tanda-tanda
peremajaan dan hidup lebih lama. Meski, belum ada hasil penelitian sahih soal
efek serupa pada manusia.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut cukup untuk
membuat sejumlah orang kaya, seperti Peter Thiel, membeli darah orang muda
untuk ditransfusi ke pembuluh darah mereka, dengan harapan bahwa itu akan
memperpanjang rentang hidup, setidaknya beberapa tahun lagi.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar