Bocah ini tewas saat akan 'terbang' menirukan karakter anime
Santo Dominggo - Pubertas bisa menjadi masa yang sulit bagi
banyak orang, di mana terkadang muncul keengganan untuk beranjak dari anak-anak
menuju dewasa.
Namun bagi sebagian anak laki-laki di suatu desa terpencil di
Republik Dominika, pubertas adalah suatu masa yang memang sulit untuk dihadapi,
karena mereka sangat terlambat memiliki penis.
Dilansir dari Science Alert, sebagian anak laki-laki di
Republik Dominika mengalami sebuah kelainan fisik yang dikenal dengan istilah
Guevedoce.
Kondisi ini membuat seorang anak laki-laki baru bisa memiliki
penis ketika menginjak awal masa pubertas, yakni di kisaran usia 9 hingga 12.
Mereka yang mengalami kondisi tidak biasa ini tercatat
sebanyak lebih dari satu persen dari populasi Salinas, sebuah desa terpencil
yang terletak di barat daya dari Republik Dominika.
Secara harafiah, Guevedoce bermakna 'penis di usia 12' -- dan
juga kerap disebut machihembras -- adalah sebuah kondisi ketika seorang gadis
kecil tiba-tiba berubah menjadi remaja putra saat menginjak usia pubertas.
Kondisi tersebut biasanya bersifat abu-abu, yakni ketika
kelamin seorang anak tidak menyiratkan secara pasti identitas gender sejak
lahir.
Namun, ada pula beberapa kasus menunjukkan bahwa anak yang
terlahir sebagai gadis, mendadak tubuh penis -- dan dinyatakan sebagai
laki-laki -- ketika memasuki masa awal remaja.
Setelah melewati masa pubertas, remaja dengan kondisi
Guevedoces akan tumbuh menjadi pria tulen, dengan penis dan 'kelengkapan'
penanda maskulinitas lain yang berfungsi penuh.
"Meski memiliki jenggot tipis dan prostat kecil, namun secara
biologis, mereka telah menjadi pria seutuhnya," ujar Mosley.
Kelompok anak-anak dengan Guevedoce tidak hanya ditemukan di
Republik Dominika, namun kasus serupa juag ditemukan di beberapa wilayah lain,
seperti di Turki dan Papua Nugini.
Menjadi Dasar Penciptaan Obat Prostat
Ilustrasi Anak Minum Air Putih
Anak Bisa Terkena Batu Ginjal karena Kurangnya Asupan Cairan
Padahal Anak Senang Bermain
Penelitian tentang fenomena Guevedoce telah dilakukan sejak
beberapa dekade lalu oleh Julianne Imperato, seorang ahli endokrinologi dari
Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang melakukan perjalanan ke Republik
Dominika pada tahun 1970an.
Imperato dan rekan-rekannya menemukan bahwa kekurangan enzim
5-α-reduktase bertanggung jawab atas kondisi langka Guevedoce.
Tanpa enzim ini, tubuh tidak menciptakan hormon seks pria
dihidrotestosteron (DHT), yang menghambat perkembangan organ seksual pria
hingga masa pubertas.
Anehnya, penemuan Imperato terkait fenomena Guevedoce jutsru menjadi dasar diciptakannya obat
Finasteride, yang digunakan oleh ribuan orang -- jika bukan jutaan orang di
seluruh dunia -- untuk mengatasi isu pembesaran prostat dan pola kebotakan pada
pria.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar