Jakarta - Setiap kota di berbagai
negara tentunya punya ciri khas masing-masing.
Ciri khasnya beragam, mulai dari
landmark atau cagar kota, tempat wisata, penduduk, gaya hidup para warga, dan
lain-lain.
Dari yang unik hingga mengagumkan,
semua ciri khas itu pasti jadi kebanggaan bagi para penduduk masing-masing.
Berikut, 3 kota paling unik di
penjuru dunia yang -- terlepas dari keunikannya -- tetap diisi oleh manusia,
seperti dilansir dari Cracked.com (8/4/2018).
1. Manshiyat Naser, Mesir
Manshiyat Naser, Mesir (Wikimedia
Commons)
Manshiyat Naser adalah kota dengan
angka pengangguran nol, perumahan yang sangat murah dan penduduk yang
kebanyakan menggambarkan diri mereka sebagai orang yang "sangat
bahagia."
Semua penduduknya tak menganggur,
memiliki pekerjaan, dan berbahagia karena berpenghasilan, yakni, dengan
mengolah sampah dalam jumlah besar
Manshiyat Naser, yang terletak
tepat di dekat Kairo -- salah satu kota terbesar di Mesir -- adalah tempat Ibu
Kota membuang semua sampahnya.
Warga Manshiyat Naser secara
harafiah hidup dan mencari nafkah dari sampah. Mereka mengumpulkannya dari
penduduk Kairo, menyortirnya, dan mendaur ulang semua sampah berharga untuk
diri mereka sendiri -- mulai dari besi tua hingga elektronik cadangan.
Uang hasil sampah yang dijual,
tentunya, masuk ke dalam kas masing-masing rumah tangga di Manshiyat Naser.
Sementara, sampah yang masih memiliki nilai fungsi, didaur ulang dan
dimanfaatkan kembali menjadi furnitur hingga alat-alat rumah tangga.
2. Miyake Jima, Jepang
Miyake Jima, Jepang (Wikimedia
Commons)
Pulau Miyake Jima di Jepang
merupakan pulau yang terbentuk dari bekuan material vulkanis sebuah gunung
berapi.
Parahnya, gunung berapi itu -- bernama
Gunung Miyake Jima -- masih berstatus aktif dan terletak di bawah material yang
membeku itu.
Setiap harinya, Gunung Miya Kejima
memuntahkan abu dan gas vulkanis yang mengandung sulfur.
Dan ya, orang-orang masih tinggal
di sana sepanjang waktu, bahkan pada saat-saat ketika udara di sana tak layak
untuk dihirup.
Salah satu persyaratan utama bagi
para warga yang tinggal di sana adalah memiliki, membawa, dan siap sedia
mengenakan masker gas. Karena setiap saat, sewaktu-waktu, sirene di pulau itu
seringkali berbunyi dan menjadi penanda terjadinya penignkatan konsentrasi gas
sulfur beracun yang fatal.
Jadi mengapa orang masih tinggal di
sana?
Untuk sains.
Atau, tepatnya, demi uang. Karena,
Pemerintah Jepang memberi setiap penduduk gaji tahunan bagi mereka hanya untuk
tinggal di Miyake Jima.
Pemerintah Jepang sering melakukan
riset untuk menguji efek paparan gas sulfat konstan pada populasi yang stabil.
Itulah sebabnya pendudu Miyake Jima tetap bertahan di tempat mereka.
Maka, jika suatu masa Anda orang
asing, terdampar di Miya Kejima, pastikan ada masker gas dalam perlengkapan
darurat Anda. Jika tidak, lebih baik Anda menghindar dan berenang menjauh dari
pulau/gunung berapi aktif tersebut.
3. Kingdom of the Little People,
China
Para penampil di Kingdom of the
Little People bersama turis di China (Wikimedia Commons)
Meski lebih tepat disebut sebagai
taman rekreasional, Kingdom of the Little People di Yunnan, China menyerupai
kota yang berfungsi seperti pada umumnya. Di dalamnya terdapat orang yang
berperan sebagai warga, pemerintah, dan institusi sosial-politik-hukum
pendukung lainnya.
Tapi, 'penduduk' yang mengisi
'kerajaan' itu adalah orang-orang dwarfisme, dan khusus bagi mereka saja.
Pendiri kota itu adalah seorang
pengusaha bernama Chen Mingjing. Suatu hari, terbesit ide bahwa ia ingin
memberi orang-orang dwarfisme tempat di mana mereka dapat bergabung bersama
untuk menghindari perundungan yang mereka alami di masyarakat.
Chen Mingjing pun mendrikan Kingdom
of the Little People, untuk membantu orang-orang dwarfisme di China memperoleh
pekerjaan, terutama di sektor hiburan dan rekreasi.
Taman itu menampilkan orang
dwarfisme dalam beragam pertunjukan harian dan musiman -- seperti pada taman
rekreasional pada umumnya. Mereka pun diberi upah bulanan rutin selama
'tinggal' alias bekerja di Kingdom.
Akan tetapi, eksistensi taman itu
menuai kritik dari berbagai lembaga dan organisasi pegiat HAM bagi orang-orang
dwarfisme, seperti Little People of America dan Handicap International. Kedua
organisasi itu menyebut tempat tersebut seperti 'kebun binatang yang berisi
orang-orang dwarfisme' karena memperlakukan mereka sebagai objek wisata, bukan
sebagai manusia.
Namun, sejumlah orang dwarfisme di
Kingdom merasa tak demikian. Beberapa justru bersyukur, dengan berada di taman
hiburan itu, mereka dapat memperoleh upah dan penghasilan mandiri -- tak
seperti di komunitas masyarakat pada umumnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar