Suara sorak sorai penonton sangat
keras ketika Bambang Sutrisno (68) masuk garis finish di Banyuwangi Ijen Green
Run 2018 Minggu (8/4/2018).
Lelaki yang akrab dipanggil Mbah
Mbang itu juga terlihat sumringah saat menerima ucapan selamat dari
rekan-rekannya sesama pelari.
"Akhirnya bisa sampai finish.
Buat saya nggak harus jadi juara, yang penting olahraga," kata Bambang
kepada Kompas.com sambil tersenyum.
Bambang adalah salah satu peserta
tertua Banyuwangi Ijen Green Run 2018 untuk kategori 18 kilometer master. Total
ada 732 pelari meramaikan trail run Banyuwangi Ijen Green Run. Mereka melintasi
lereng Gunung Ijen wilayah Kabupaten Banyuwangi dan menyusuri jalur yang cukup
menantang, mulai dari tanjakan, turunan yang curam sampai menyeberangi sungai
serta melewati hutan cengkeh dengan lintasan berbatu dan perkebunan kopi dan
hutan pinus. Banyuwangi Ijen Green Run terdiri atas tiga kategori, yaitu kelas
6 KM, 18 KM, hingga 33 KM.
Kepada Kompas.com, Bambang
menceritakan, baru 2 tahun ini menekuni olahraga lari. Sebelumnya, dia aktif
bersepeda sejak tahun 1980-an. Bahkan, pria pensiunan salah satu BUMN tersebut
mengaku pernah bersepeda menempuh jarak 300 kilometer dalam satu hari.
"Kalau sekarang rutin lari
minimal 5 kilometer per hari. Kalau larinya pagi berarti sore sepedaan atau
sebaliknya," jelasnya.
Walaupun sudah lanjut usia, Bambang
memilih untuk tetap rutin berolahraga. Namun untuk mengkontrol kondisi tubuhnya
saat berlari, dia memilih menggunakan alat untuk mengukur detak jantung. Ia
kemudian menunjukkan alat yang dipasang bagian dadanya.
"Ini alatnya di dada dan untuk
memantau detak jantungnya, saya bisa lihat di jam tangan ini. Kalau sudah 90
persen saya tidak akan memaksa," katanya.
Saat sampai finish pun dia memilih
tidak langsung berhenti dan beristirahat, namun bergerak pelan hingga detak
jantungnya kembali normal.
"Kata dokter memang di usia
saya ini agak riskan untuk olahraga berat tapi yang terpenting adalah rutin dan
terukur. Bukan langsung digenjot tanpa latihan," jelasnya.
Kakek kelahiran 16 Agustus 1950
tersebut menyelesaikan rute 18 kilometer dalam waktu 2 jam 35 menit 34 detik.
Dia mengakui agak kesulitan di jalur turun, namun tidak masalah saat tanjakan.
"Saat turun beban berat di
kaki. Jadi saya harus hati-hati biar nggak cidera. Dan, olahraga ini hobi dan kebutuhan,
jadi harus dilakukan dengan senang," pungkasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar