Singapura - Kisah cinta ini merupakan
hal unik bagi masyarakat Singapura, dan kian menggetarkan ketika menilik pada
pengorbanan dan ketulusan yang dibina oleh sejoli berbeda ras ini.
Ketika Koh Leng Kiat meninggal di
usia 83 tahun pada 5 Maret, para anak tirinya yang beretnis India, bersama
dengan anak kandungnya yang mewarisi genetik Tionghoa, berkumpul melakukan
upacara pemakaman dalam ajaran Tao, yang sejatinya tidak benar-benar mereka
pahami tata caranya.
Dilansir dari Asia One pada Minggu
(1/4/2018), keluarga mereka tidaklah seperti kebanyakan warga Singapura. Mereka
merupakan percampuran etnis Tionghoa dan Tamil, suatu takdir cinta yang berawal
dari sebuah insiden pada 1966 silam.
Pada tahun tersebut, sebuah
kecelakaan mobil menewaskan suami Meena Jaganathan. Perempuan itu berusia 24
tahun saat ditinggal mati suaminya.
Pasangan ini memiliki delapan anak,
termasuk yang termuda di antaranya baru berusia dua bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup,
Meena pun bergabung dengan perusahaan konstruksi sebagai buruh kasar pada 1967.
Setelah beberapa bulan bekerja,
Meena mengalami radang usus buntu. Tuan Koh (32), yang merupakan atasannya,
membawa ia ke rumah sakit untuk dirawat.
Putus asa karena tidak ada yang
merawat anak-anaknya, Meena pun menoleh ke Koh, meminta bantuannya.
Koh setuju membantunya, dan segera
membawa kedelapan anak Meena ke rumahnya yang berlokasi di sebuah kampung di
kawasan Joo Chiat.
Apa yang dilihatnya sangatlah
menyedihkan, lima anak laki-laki dan tiga perempuan dengan masa depan yang
tidak pasti, tinggal di rumah kecil tanpa ayah.
Tergugah oleh kesulitan mereka, Koh
pun bertekad untuk melakukan sesuatu.
Setelah Meena kembali, Koh mulai
membantu sedikit demi sedikit, memberikan bantuan keuangan dan membeli barang
untuk sembilan orang anggota keluarga barunya.
Untuk membalas kebaikannya, Nyonya
Meena sering memasak dan menyajikannya makanan, setiap kali Koh berkunjung ke
rumahnya.
Perlahan tapi pasti, cinta tumbuh
meski ada hambatan bahasa dan budaya.
Bantuan tulus yang diberikan oleh
Koh membuat hati Meena luluh, dan menjadikannya kian kagum pada pria beretnis
Tionghoa itu.
"Appa (ayah) sangat menyukai
masakan amma (ibu). Dia menyukai dalcha, kari daging kambing, kari ayam, dan
kari ikan. Dia sering bercanda bahwa dia jatuh cinta karena hidangan itu,"
kata anak pertama pasangan itu, Chitra (46).
Meskipun masing-masing orangtua
mereka menolak untuk memberikan restu, Koh tetap menikahi Meena pada 1970.
Pasangan itu hidup penuh cinta di Joo Chiat.
Tumbuh dengan Sifat Kekeluargaan
yang Erat
Ilustrasi keluarga
sepakat.(iStokphotos)
Dari pernikahan mereka, Koh dan
Meena dikaruniai empat orang anak. Dua pria dan dua wanita.
Semua anak mereka diberi nama
Tionghoa pada akte kelahirannya, namun dipanggil dengan nama Tamil di kehidupan
sehari-hari. Sebagai contoh, nama Chitra, anak pertama mereka, adalah Koh Geok
Yen.
Kelahiran Chitra juga menjadi
momentum mulai kembali diterimanya pasangan tersebut oleh masing-masing
keluarga besarnya.
Keluarga multikultur tersebut
tumbuh dengan keakraban yang sangat erat, meski menggunakan berbagai bahasa
untuk saling berkomunikasi satu sama lain.
Meena berkomunikasi dengan Koh
dalam bahasa Tamil, bahasa yang tidak bisa diucapkan, namun dimengerti dengan
cukup baik olehnya.
"Kami belum pernah mendengar
percakapan antara appa dan amma. Appa akan bertanya di mana amma berada. Dia
jarang memanggilnya dengan nama," kata Nalandran (58), salah satu anak
yang dibawa oleh Meena.
"Appa dan amma pergi bekerja.
Pada satu titik waktu, appa melakukan dua atau tiga pekerjaan. Setelah bekerja
penuh waktu di perusahaan konstruksi, dia akan bekerja paruh waktu,"
kenang Chitra.
"Appa akan mengajak kita
jalan-jalan. Kita akan mengemas makanan dan membawanya. Appa suka pergi ke
kebun binatang," tambahnya.
Ketika berkunjung ke bioskop, Koh
akan membelikan semua anaknya tiket menonton film India. Baru setelahnya, ia
akan mengajak untuk berlanjut menonton pemutaran film Cina.
"Appa adalah pria yang baik.
Dia tidak merokok atau minum alkohol. Dia selalu pulang langsung ke rumah
setelah bekerja. Dia selalu menghabiskan waktu bersama kami," kenang
Nalandran.
Dia mengatakan bahwa pada akhir
1980-an, keluarganya pindah ke sebuah unit apartemen tiga ruang di kawasan
Bedok.
Sedihnya, Meena meninggal pada
1994. Saat itu ia berusia 52 tahun. Koh merasa sedih dan sulit menerima
kepergian sang istri.
Bersikap Adil Kepada Seluruh
Anaknya
Ilustrasi anak bermain
(iStockphoto)
Seluruh anak dari pasangan tersebut
mengaku Koh selalu berlaku adil, tidak membedakan antara tiri atau kandung.
"Di antara para putra, aku
adalah yang paling dekat dengan appa. Bahkan, aku lebih dekat dengan appa
dibanding dengan amma," katanya Nalandran seraya menitikkan air mata.
Karena Koh mencintai anak-anaknya,
dia sering mengunjungi mereka bahkan setelah mereka tumbuh dewasa dan membina
keluarga.
Dia juga tidak akan melewatkan
ulang tahun seluruh anak dan cucunya.
Koh diketahui memiliki 24 cucu dan
17 cicit yang semua akan berbicara dengannya dalam Bahasa Inggris.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar