Jakarta Pemerintah berencana
mengkaji penambahan anggaran subsidi untuk solar dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) 2018. Penambahan tersebut, menyesuaikan dengan situasi
harga minyak dunia yang lebih tinggi dari pada ICP (Indonesian Crude Price)
beberapa waktu terakhir.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri
Mulyani Indrawati mengatakan, kajian itu dilakukan untuk mendukung kesehatan
keuangan PT Pertamina dalam menyediakan bahan bakar bersubsidi bagi masyarakat.
Hal ini pun telah dibahas bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian
Darmin Nasution dan Menteri ESDM Ignatius Jonan.
"Yang hasil tadi dengan Pak
Menko (Darmin Nasution) dan Menteri ESDM memang dibahas mengenai situasi dari
harga minyak yang lebih tinggi dari ICP. Yang ada asumsinya dalam undang undang
APBN implikasinya tentu saja bahwa nilai subsidi yang harus ditanggung Pertamina
meningkat cukup besar," ujarnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta,
Rabu (2/5/2018).
Sri Mulyani melanjutkan, pemerintah
telah membahas bagaimana langkah tersebut dapat diimplementasikan dengan
mengutamakan kemampuan daya beli masyarakat tanpa mengabaikan keberlangsungan
usaha Pertamina.
"Kita sudah membahas mengenai
bagaimana mekanisme agar di satu sisi masyarakat masih tetap bisa terjaga
dayabelinya terutama karena tekanan dari harga minyak di BBM dan disisi lain
Pertamina sebagai suatu korporasi doing concern yang baik," jelasnya.
Reporter: Anggun P. Situmorang
Sumber: Merdeka.com
Kendaraan Tempur Bakal Pakai Solar
Campur Minyak Sawit
Aktivitas pengisian BBM di SPBU
Cikini, Jakarta, Rabu (30/9/2015). Menteri ESDM, Sudirman Said menegaskan, awal
Oktober tidak ada penurunan atau kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) baik
itu bensin premium maupun solar. (Angga Yuniar)
Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) ingin memperluas penggunaan Solar bercampur biodiesel. Salah
satunya pada kendaraan tempur atau alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Direktur Jenderal Energi Baru
Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana mengatakan, Kementerian
ESDM terus mendorong agar semua sektor bisa menggunakan Solar dicampur dengan
biodiesel. Bahan utama dari biodiesel tersebut adalah minyak kelapa sawit.
"Ke depan hanya satu produk
yang beredar hanya biodiesel saja," kata Rida, di Kantor Kementerian
ESDM, Jakarta, Senin (23/4/2018).
Salah satu sektor yang bakal
didorong menggunakan Solar campur biodiesel adalah alutista. Dia pun
menargetkan hal tersebut bisa diterapkan pada tahun depan. "Iya harapan
kita iya. Tahun depan maunya," tutur Rida.
Saat ini, sektor yang sudah
menerapkan Solar campur biodiesel adalah sektor transportasi dan industri
pertambangan.
Rida melanjutkan, untuk menerapkan
campuran Solar dengan biodiesel di semua sektor, Kementerian ESDM akan
membicarakan dengan delapan kementerian, di antaranya Kementerian Perhubungan
dan Kementerian Perindustrian.
Saat ini, uji coba penggunaan Solar
dengan biodiesel belum dilakukan, karena harus menunggu hasil diskusi dengan
delapan kementerian.
Uji coba Solar campur biodiesel
saat ini sedang dilakukan pada lokomotif kereta. Setelah uji coba, akan
diterbitkan payung hukum.
"Baru ngobrol-ngobrol wacana.
Payung hukum itu setelahnya. Kayak sekarang kan uji coba kereta api, setelah
uji coba kan ke payung hukum begitu tahapannya," tandasnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar