:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/2209898/original/039086900_1526037910-Yap-stone-money2-750x563.jpg)
Apa yang terlintas dibenakmu jika memikirkan kata uang? Sebagai
alat transaksi sudah semestinya uang merupakan barang yang mudah dibawa.
Beberapa di antaranya menggunakan kertas atau kepingan logam
kecil sehingga mudah ditaruh di tas, dompet ataupun saku. Tapi di suatu pulau
yang terletak di Samudra Pasifik memiliki mata uang yang unik dan diluar dugaan
banyak orang.
Masyarakat Yap dari Kepulauan Micronesian mulai menggunakan
batu berpentuk kepingan koin. Meski kepulauan Mikronesia lainya biasa
menggunakan dolar AS, tapi kebudayaan tukar-menukar dan transaksi di pulau Yap
bisa dibilang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.
Uniknya, batu-batu yang mereka gunakan bukan dalam bentuk
kepingan kecil yang bisa digenggam. Melainkan butuh banyak orang untuk
mengangkat batu tersebut. Berat batu bisa beragam, ada beberapa di antaranya
memiliki berat sebanding dengan mobil. ratusan koin batu ini tersebar luas di
kepulauan. Jumlahnya telah mencapai 13 ribu piringan batu.
"Ada seorang navigator yang memberi tahu anak buahnya
untuk mengukir batu itu dalam bentuk ikan. Namun saat melihat ke arah bulan
purnama, batu itu mengingatkannya pada warna bulan, " ujar Dr. Scott
Fitzpatrick, Professor Asosiasi Antropologi di Universitas Oregon menjelaskan
asal usul tentang bongkohan batu di Yep yang dijadikan sebagai mata uang.
Melihat batu itu indah dan berkilau. sang navigator kemudian
menyuruh anak buahnya untuk mengukir baru ke dalam bentung seperti cakram.
Setelah itu, ia juga memerintahkan anak buahnya untuk melubangi ukiran batu itu
pada bagian tengah supaya mudah dibawa.
:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/2209899/original/041729400_1526037910-Yap-stone-money.jpg)
Tak perlu waktu lama. cakram batu tersebut kemudian dilihat
sebagai bentuk mata uang di Yap. Ada satu cerita yang juga menyebutkan bahwa
seorang awak pernah membawa batu tersebut ketika kapal sedang dilanda badai
besar.
Sayangnya batu tersebut akhirnya tenggelam di dasar laut
karena sangat berat. Batu berharga itu kemudian diberi tahu oleh para awak
kapal kepada penduduk pulau. Melihat kepingan batu itu bagus, keluarga yang
berhasil mengangkat batu tersebutdari laut akhirnya beralih menjadi pemiliknya.
Karena batu itu sangat berat, menjadi sebuah risiko besar
untuk nekat memindahkannya. Oleh sebab itu, biasanya batu hanya dbiarkan saja
namun pemilknya bisa berpindah tangan
Di sisi lain, mereka sebenarnya
tak menggunakan batu itu sebagai mata uang sehari-hari. Biasanya mereka
menggunakan mata uang batu sebagai bentuk transaksi penting meliputi mahar
pernikahan hingga menukarkan sebagai makanan jika seaindainya dalam situasi yang
ekstrem.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar